Cerita pendek atau cerpen merupakan salah satu bentuk karya sastra yang populer di kalangan pembaca dan penulis. Dengan alur yang singkat, karakter yang jelas, dan pesan moral yang dalam, cerpen mampu menyampaikan makna yang mendalam dalam waktu yang relatif singkat. Bagi pemula, memahami struktur dan cara menulis cerpen bisa menjadi langkah awal yang penting dalam mengembangkan kemampuan menulis. Berikut ini adalah beberapa contoh cerpen yang menarik dan mudah dipahami untuk pemula.
Pengertian Cerpen
Cerpen adalah singkatan dari "cerita pendek". Cerpen merupakan karya sastra fiktif yang memiliki jalan cerita yang singkat, dengan tokoh utama dan konflik yang jelas. Meskipun pendek, cerpen tetap memiliki kesan yang mendalam bagi pembacanya. Cerpen biasanya ditulis berdasarkan imajinasi penulisnya, dan dapat mengangkat berbagai tema seperti kehidupan sehari-hari, perasaan, atau pelajaran hidup.
Ciri-Ciri Cerpen
Berikut ciri-ciri umum dari sebuah cerpen:
- Fiktif: Cerpen bukanlah cerita nyata, melainkan hasil imajinasi penulis.
- Singkat: Cerpen biasanya terdiri dari beberapa ribu kata, tidak lebih dari 10.000 kata.
- Keterbatasan Tokoh: Cerpen biasanya hanya memiliki satu atau dua tokoh utama.
- Plot Singkat: Cerpen memiliki plot yang singkat dan fokus pada satu aspek cerita.
- Gaya Bahasa Padat: Cerpen menggunakan bahasa yang efektif dan tidak bertele-tele.
- Kesan Mendalam: Meskipun singkat, cerpen sering meninggalkan kesan yang mendalam bagi pembaca.
Fungsi Cerpen
Cerpen memiliki berbagai fungsi, antara lain:
- Fungsi Rekreasi: Membuat pembaca merasa senang dan terhibur.
- Fungsi Estetis: Memberikan keindahan kepada pembaca.
- Fungsi Moralitas: Menyampaikan nilai-nilai moral kepada pembaca.
- Fungsi Didaktif: Mengajarkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.
- Fungsi Religius: Mengandung nilai-nilai agama yang bisa dijadikan teladan.
Struktur Cerpen
Struktur cerpen terdiri dari enam bagian, yaitu:
- Abstrak: Bagian yang menggambarkan keseluruhan isi cerita.
- Orientasi: Pengenalan cerita, termasuk penokohan dan latar.
- Rangkaian Peristiwa: Serangkaian peristiwa yang membentuk alur cerita.
- Komplikasi: Puncak konflik atau masalah yang dihadapi tokoh.
- Resolusi: Penyelesaian masalah atau akhir dari cerita.
- Koda: Komentar akhir atau kesimpulan dari cerita.
Contoh Cerpen
1. Melihat Berita
Faiza sedang asyik menonton televisi. Seperti biasanya, menonton acara kartun. Keluarga Pak Somat. Kadang dia tertawa sendiri melihatnya.
Di saat iklan, Faiza mengganti channel televisi. Ibunya memperhatikan itu. Faiza sekilas menonton berita.
"Korupsi? Apa itu?", celoteh Faiza sendirian. O iya, Faiza kelas enam.
"Apa, Za?", sahut ibunya.
"Itu bu.. Ada yang memakai baju warna orange.. Korupsi..", kata Faiza.
"Memangnya korupsi itu apa, bu?", tanya Faiza.
Ibunya memutar otak untuk menjelaskan arti korupsi untuk anak seusianya.
"O, jadi korupsi itu seperti mencuri ya, bu?", tanya Faiza.
"Ya semacam itu, Za. Tapi uangnya banyak sekali itu.. Uang itu milik negara..", ujar ibu.
"Seharusnya uang itu kan untuk pembangunan atau untuk membantu orang miskin tetapi dikurangi oleh orang yang korupsi.. ", lanjut ibu.
"Contohnya, seharusnya uang untuk diberikan kepada orang miskin itu seratus ribu.. Tetapi yang diberikan ternyata hanya delapan puluh ribu.. Yang dua puluh ribu untuk dirinya sendiri.. Itu contoh kecil korupsi, Za..", kata ibu lagi.
"Contoh lagi, misal ada iuran dari sekolah senilai dua puluh ribu. Maka kamu bilang ibu dan bapak ya dua puluh ribu. Tidak ngomong dua puluh lima ribu, terus yang lima ribu untuk kamu sendiri. Tidak boleh seperti itu, Za..", kata ibu lagi.
"Kalau dalam hal belajar, kamu harus berusaha datang tepat waktu di sekolah, tidak menyontek saat ulangan, tidak mencuri uang punya teman dan lainnya..", kata bapak menyambung perkataan ibu.
"Nah, kalau kamu sejak kecil selalu jujur, maka kalau kamu besar nanti juga akan berusaha berbuat jujur, Za. Jadi apapun nanti, kamu akan terbiasa jujur.. tidak mengambil yang bukan milikmu..", lanjut bapak.
Faiza mengerti apa yang dikatakan ibu dan bapak. Ternyata setiap orang harus bersikap jujur agar tidak korupsi. Kalau tidak jujur bisa ditangkap seperti orang-orang yang memakai baju orange. Faiza tidak mau menjadi seperti itu.
2. Sepatu Monita
Monita bersungut-sungut.
"Kamu itu kenapa, Mon?", tanya ibu yang baru selesai memasak di dapur.
"Ini, bu..", kata Monita sambil menunjukkan sepatu baru.
"Wahhh.. Alhamdulillah dong, Mon.. Kamu sudah dibelikan sepatu baru sama bapak..", kata ibu.
"Tapi jelek, bu.. Aku tidak suka..", kata Monita.
Monita memang menginginkan sepasang sepatu baru. Sepatu lamanya sudah pudar warnanya. Makanya tadi bapak mengajak Monita ke toko sepatu di kota.
"Tidak boleh begitu, Mon.. Kamu harus bersyukur lho..", kata ibu menasehati Monita.
Marni melihat sepatu di samping lemari di kamarnya. Sepatu yang sudah sangat usang. Sudah bolong bagian depan. Apalagi warnanya. Sudah sangat memudar.
"Tabunganku belum cukup untuk membeli sepatu baru..", batin Marni.
Marni kemudian memakai sepatu bolong miliknya itu. Lalu mengambil tasnya.
Marni memang membantu simboknya berjualan pisang goreng setiap harinya. Bahkan dijual di sekolah. Nah, dari jualan itu, Marni diberi upah sama simboknya.
Marni kemudian mengambil sepatu bolong miliknya itu. Lalu memakainya. Marni langsung mengambil tasnya.
"Mbok, Marni berangkat dulu ya..", pamit Marni kepada simbok yang sedang menyiapkan dagangannya.
Simbok menoleh. "Ya, nduk. Hati-hati..", kata simbok sambil menyerahkan pisang goreng yang akan dijual Marni di sekolah. Marni menerima sekotak pisang goreng dari simbok. Lumayan besar kotaknya.
"Assalamu'alaikum, mbok..", ucap Marni.
"Wa'alaikumsalam...", jawab simbok.
Di sekolah. "Wah, sepatunya baru niyeee..", ucap Mida sumringah melihat Monita memakai sepatu baru.
"Apaan sih, Da.. Jelek gini kok..", kata Monita manyun.
"Lhohhh.. Kan bagus banget ini, Ta...", kata Eka menyahut.
"Bagus apaan.. Murahan kok, aku tidak suka..", kata Monita lagi.
Eka dan Mida saling berpandangan. Tidak mengerti kenapa Monita berkata seperti itu.
Jam istirahat. "Pisang gorengnya, Ka, Da, Mon..", Marni menjajakan pisang gorengnya kepada Eka, Mida dan Monita yang sedang duduk di bawah pohon mangga depan sekolah.
"Berapaan, Mar?", tanya Eka.
"Lima ratusan, Ka.. Mau beli berapa?", sahut Marni.
"Emmm.. Beli enam saja, Mar..", kata Eka sambil menyerahkan uang tiga ribu rupiah kepada Marni.
Marni mengambilkan pisang goreng di dalam plastik bening. Kemudian menyerahkan kepada Eka. "Terimakasih ya, Ka..", kata Marni.
Diam-diam Monita memperhatikan Marni. Dia melihat sepatu Marni sobek bagian depan.
"Eh, kamu kenapa Mon?", tanya Mida sambil menyenggol Monita.
"Iya, ngalamun saja kamu ini.. Nih, pisang gorengnya.. Ambil dua buat kamu.. Mida juga dapet dua..", kata Eka sambil menyodorkan pisang goreng dalam plastik kepada Mida dan Monita.
Mereka menikmati pisang goreng itu dengan nikmatnya.
"Bu, Pak.. Makasih ya Monita sudah dibeliin sepatu baru..", kata Monita setiba di rumah dan bertemu bapak dan ibu.
Ibu dan bapaknya mengernyitkan dahi.
"Iya, Mon.. Sama-sama..", kata bapak.
"Tadi Monita melihat Marni, teman di sekolah hanya memakai sepatu yang sudah robek bu, pak..", cerita Monita seakan tahu keheranan bapak dan ibunya.
"Kasihan bu, pak.. Dia berjualan pisang goreng setiap hari di sekolah..", lanjut Monita.
"Terus kamu beli tidak?", tanya ibu.
"Kalau tadi yang beli Eka, bu. Biasanya gantian..", jawab Monita.
Bapak dan ibu tersenyum mendengarnya.
"Pak, bu.. Bagaimana kalau sepatu lamaku dikasih ke Marni. Boleh tidak?", tanya Monita tiba-tiba.
"Ya boleh, Mon.. Asal kamu ikhlas ketika memberikan..", jawab ibu.
"Iya, bu.. Monita ikhlas kok.. Toh sepatu lamaku masih layak dipakai.. Marni pasti senang, bu, pak..", kata Monita lagi.
"Ya, besok kamu bawa ke sekolah ya.. Lalu berikan sepatumu untuk Marni..", kata ibu lagi.
Monita mengangguk. Dia tersenyum. Sepatu lamanya akan bermanfaat untuk temannya. Dan dia tetap memakai sepatu baru yang telah dibelikan bapak untuknya.
"Jangan lupa, besok dibeli pisang gorengnya Marni juga Mon..", kata bapak.
"Sekalian membantu dia..", lanjut bapak.
"Iya, pak..", sahut Monita senang.
Besok sepatu lamanya itu akan diberikan kepada Marni. Biar Marni memakai sepatu yang tidak robek lagi.
3. Amplop
Nisa memandang amplop-amplop yang dia pegang. Amplop ukuran terkecil berwarna putih bersih. Ada sekitar 20 lembar.
Di atas meja ada uang sepuluh ribuan, dua puluh ribuan dan lima puluh ribuan. Di atas meja itu juga tergeletak buku kecil yang terbuka dan sebuah bolpoin.
"Sa, ini tolong dimasukkan ke dalam amplop-amplop ini..", pinta ibu.
"Dan ini ada buku catatan. Ini uangnya..", lanjut ibu lagi.
Sejurus kemudian Nisa menerima amplop, buku catatan dan sejumlah uang dari tangan ibu. Nisa waktu itu masih sekolah jenjang SD kelas lima.
Nisa membaca catatan di buku ibu. Kemudian dia mendapati tulisan nama-nama yang tak asing. Dan sekaligus ada catatan nominal uang.
"Mengko nek wis diamplopi, tolong dikasihkan ke nama-nama itu ya..", pinta ibu.
"Nggih, bu..", jawab Nisa.
"Kita harus berbagi, Sa. Sedikit atau banyak rezeki yang kita miliki itu ada hak orang lain..", kata ibu.
"Dengan begitu harta yang kita miliki akan bersih, Sa. Percayalah, dengan memberi kamu tidak akan menjadi miskin.. Justru kamu akan menjadi kaya.. Kaya hati, Sa", lanjut ibu.
Nisa mendengarkan perkataan ibu sambil memasukkan uang- uang itu ke dalam amplop.
Nisa masih memegang amplop-amplop putih baru ukuran kecil itu. Masih teringat jelas nasehat dengan pemberian contoh langsung dari almarhumah ibunya.
"Alhamdulillah, ini tahun pertamaku mendapatkan gaji dari kerjaku. Dan pertama kali membagi ini untuk tetangga-tetanggaku yang kekurangan..", batin Nisa.
Nisa mulai memasukkan uang-uang miliknya ke dalam amplop. Sesuai dengan catatan, amplop A berisi berapa, amplop B berisi berapa, dan seterusnya. Mungkin tak seberapa, tapi akan memberi manfaat bagi yang benar-benar membutuhkan.
Jika dulu Nisa membantu ibunya, sekarang Nisa mengeluarkan sedekah ini hasil jerih payahnya sendiri.
4. Tentang Pilihan Ku
Pagi lagi, dan kembali ke rutinitas kerja lagi. "Harus ya gw ada di sini?" Jujur, kadang ungkapan seperti itu terbesit di dalam pikiranku. Ketika aku mulai sadar, detik ini aku sudah menjalani apa yang disebut dengan pilihan. Iya, pilihan hidup. Hidup itu tidak memaksa kok, kita hanya perlu memilih. Artinya, kalau mau menjalani ya silakan, nggak juga gapapa. Sesimpel itukah hidup? Jawabannya, Iya. Hanya saja pada setiap pilihan pasti ada sebuah konsekuensi yang didapat nantinya.
Pagi ini, aku flashback pada beberapa waktu lalu. Saat itu aku memasuki tahun pertama kuliah. Hari-hari ku seru, jari-jari tanganku lincah menekan tombol keyboard di laptop, merangkai kata-kata. Pengetahuanku, teknik menulis ku pada saat itu sama sekali masih NOL besar. Tapi dorongan hati terus memberi semangat untuk terus berusaha, belajar dan mau menekuni apa yang disebut dengan dunia menulis. Ya, karena aku memilih untuk mengambil jurusan sastra di kampusku.
Orang-orang terdekat juga terus memotivasiku untuk selalu mau belajar, dari iseng-iseng bikin cerita "semau-ku" Tapi pada akhirnya ya aku mulai disibukkan dengan rutinitas lainnya. Huft..
Dan jika ada yang bertanya "Besok lulus mau kerja di mana?" Dengan mantap aku menjawab, "Di media, atau paling tidak bisa jadi penulis yang asik." Dan mereka yang bertanya selalu menjawabnya dengan kata, "Amiiin...".
Pagi ini, tepat pukul 06.00, badan mungilku bersemangat untuk menyusuri padatnya jalanan ibu kota bersama kendaraan roda dua kesayanganku. Perjalanan yang lumayan mengesankan, dibantu earphone kepunyaanku yang selalu menemani perjalananku dari selatan Jakarta menuju timurnya Jakarta.
Iya, setiap pagi pada hari-hari kerja inilah rutinitas ku. Memakai rok mini sebatas lutut, flat shoes, dan tas yang bukan tas "gemblok" adalah perjuangan tersendiri ketika harus mengendarai kendaraan bermotor dan berhadapan dengan kemacetan, pengendara lain. Bahkan asap hitam tebal yang keluar dari corong knalpot minibus.
Haaahaha, kadang nyiksa cyinnn....
Cukup tenang dengan secangkir ice coffee yang selalu menemani malam hariku, setelah seharian dibuat "stres" dengan kemacetan ibu kota dan bahkan pekerjaan di kantor.
Ditambah angin yang sering masuk ke tubuh kecilku ini. Hahaha itulah sebabnya aku sangat mudah sekali masuk angin ataupun terserang penyakit.
Setiap pagi, aku berfantasi berangkat kerja dengan menggunakan celana jeans sobek di bagian lutut, sepatu kets bertali, rambut dikuncir kuda, dan menenteng sebuah kamera. Aaaaah.... Aku hanya sedang berandai. Mengamati setiap tingkah laku unik orang-orang di jalanan, mencari fokus yang bisa terus dikembangkan menjadi sebuah cerita, dengan dokumentasi gambar-gambar yang terbidik kamera, dan tentunya dengan jam kerja yang bisa dikatakan "bebas". Hahahaha pengandaian ku pagi ini cukup membuatku menelan ludah karena kenyataan yang harus aku jalani sudah ada di depan mata.
Hari ini, aku tetap pada pilihanku. Belajar terlepas dari apa yang aku impikan, pilihanku memang bukan impianku, tapi dari situlah aku harus belajar lebih dalam lagi untuk menaklukkan apa yang sudah menjadi pilihanku. Jangan pernah takut keluar dari dirimu, dari mimpi-mimpimu. Karena itu akan membuat kau menemukan lebih banyak arti hidup lagi :)
5. Elsa
Namaku Elsa. Aku sekarang baru kelas X SMA. Hidupku menyebalkan dan membosankan semua hal yang hadir sekarang dengan ajaibnya bisa hilang ditelan waktu.
Begitu juga dengan seseorang yang datang membawa sepucuk harapan lalu pergi menanam benih kesakitan. Aku tak suka mengistimewakan seseorang karena fisik.
Fisik bisa hilang pada waktunya. Sedangkan hati akan tetap ada meski warna rambut mulai memudar. Bahkan hari-hariku hanya biasa kuhabiskan dengan pena dan kertas.
Menulis bait-bait puisi adalah hal yang biasa aku lakukan. Dengan mencurahkan semua isi hati pada kertas yang tak akan pernah membukakan rahasiaku.
Namun semua berubah. Saat aku mulai mengenal seseorang. Sebut saja dia Kak Galih, kakak kelasku yang tak sengaja kulihat saat dia sedang berolahraga di depan kelasku. Aku memang biasa melihatnya. Namun entah kenapa saat itu dia tampak berbeda. Laun hari aku mulai mencari tahu tentang Kak Galih.
Perlahan lahan cerita temanku mengenai Kak Galih mulai aku sukai, tentang kak Galih baik mahir olahraga, dan aku dengar dia belum pernah punya pacar. Aku terus menerus mencari tahu, hingga aku mulai menyukai Kak Galih. Setiap pagi dan pulang sekolah aku selalu duduk di teras kelas hanya untuk melihat Kak Galih lewat.
Aku hanya bisa melihat Kak Galih dari jauh. Aku tak akan pernah bisa menyentuh Kak Galih. Dia terlalu sempurna untuk aku yang hanya biasa. Semua hal itu membuat aku tertekan. Aku mulai sering mengeluh dan melamun. Teman-temanku terus menguatkan aku dan mengatakan Kak Galih pasti akan sadar akan keberadaanku.
Suatu hari temanku mengatakan bahwa Kak Galih akan mewakili sekolah untuk mengikuti turnamen sepak bola, tentu saja itu adalah salah satu waktu yang bisa aku gunakan untuk melihat Kak Galih dari jauh. Namun semua membuat aku sedikit tersadar bahwa Kak Galih terlalu sibuk dengan dunianya. la bahkan tak pernah mengirim pesan ataupun menyapaku, aku merasa seperti seseorang yang bodoh.
Saat aku benar benar-terpuruk seseorang kembali hadir, panggil saja dia Leo. Leo baik dia selalu menghiburku dan selalu ada bahkan untuk sebuah perhatian yang kecil. Aku hanya merespon seadanya dengan hati masih berharap pada Kak Galih yang bahkan tak mengenalku.
Semua waktu aku habiskan dengan hancur, lalu Leo tiba tiba mengungkapkan perasaannya. Membuat aku kaget dan tak tahu bila Leo menyukaiku. Teman-temanku menyarankan agar aku menerima Leo yang sudah pasti dari pada Kak Galih.
Namun aku memikirkan matang-matang. Aku telah memilih Kak Galih dari awal lalu Leo datang dan menarik perhatianku. Namun hatiku masih sama, aku masih berharap pada Kak Galih. Dengan penuh pertimbangan aku menolak Leo, dia tampak sedih dan tak percaya. Namun aku mengatakan aku masih menyukai Kak Galih walau tak pernah dilihat.
Leo pergi dari hidupku dengan kekecewaan yang aku berikan padanya dan sebagai timbal baliknya aku pun sama menerima kekecewaan dari sikap Kak Galih yang dingin dan tak pernah menganggap aku di depannya. Aku merasa aku bodoh karena tetap menunggu seseorang yang belum pasti, tapi tak apa yang pasti aku masih tetap berharap pada satu orang, tanda dan bukti bahwa aku tak main-main. Aku harap Kak Galih segera tahu.
0Komentar